ISU NON TEKNIS CDMA 2000

Perjalanan CDMA2000

CDMA menjadi salah satu alternative yang teruji di wilayah yang padat penduduk seperti di Indonesia dengan kondisi daya beli yang relative rendah serta CDMA ini teruji mampu memberi beberapa aplikasi yang menjadi layanan kebutuhan dari masyarakat.


Para vendor cdma yang masuk di Indonesia antara lain,SanexTe,produk yang dikeluarkan Sanex adalah salah satunya jenis SC 9530, banyak diminati masyarakat karena sudah kompatibel dengan teknologi RUIM (Sim Card) yang sudah dikeluarkan oleh PT TELKOM dengan produknya adalah Telkomflexi.Selain itu Nokia mengeluarkan dua produk ponsel berbasis CDMA terbaru, yakni Nokia 2280 dan Nokia 3105,Motorola meluncurkan seri Motorola V868, yang didukung dengan layar TFT 260.000 warna. Ponsel terbaru Motorola ini tercatat sebagai ponselCDMA pertama dari Motorola yang dilengkapi kamera digital built in.Modottel yang menawarkan dua model terbaru, yakni Modottel WCE-800 dan WCE-300, CDMA baru lain yakni merek Kyocera K112 yang merupakan vendor ponsel asal Jepang ini telah meluncurkan seri Kyocera K112. Ponsel baru ini dilengkapi berbagai fitur, antara lain, scheduler, kalkulator, alarm clock, stopwatch dan T9,kemudian vendor yang berasal dari China, Zhongxing Telecommunication Equipment Co. Ltd (ZTE),yang bekerjasama dengan salah satu Universitas Terkemuka di Indonesia yaitu ITTelkom.



Menurut data yang didapat CDMA2000 ini merupakan salah satu teknologi 3G yang banyak diminati, tercatat 215 operator di 95 negara termasuk 70 sistem CDMA2000 1xEV-DO yang melayani lebih dari 325 juta pelanggan dan terdapat lebih dari 375 juta pengguna CDMA di seluruh dunia, lebih dari 1.700 perangkat CDMA2000 dari lebih dari 92 pemasok telah diluncurkan di pasar, termasuk lebih dari 440 perangkat 1xEV-DO dan 26 perangkat Rev.



Dahulu ada yang namanya we el el (WLL) atau disebut wireless local loop fixed, bentuk ini ada yang analog (ultraphone) ada juga yang digital (DECT), we el el ini tergolong berkualitas jelek. Trus ada lagi yang namanya
nordic mobile telephone dan advance mobile phone system. Namun teknologi wireless ini ada juga yang punya keunggulan tersendiri seperi CDMA yang qt bahas sekarang, ada yang mengganggap kalau CDMA itu lebih unggul dari GSM dalam bidang kapasitas serta kualitas dari voice nya. CDMA ini pun berkembang sesuai arahanya, dari CDMAOne yang di China dan dan Korea sampai CDMA 2000 yang berhasil sampai sekarang sebagai telapone tetap.

Kepincut akan keberhasilan Cina dan Korea, PT Telkom dan PT Indosat kini sedang gencar-gencarnya mempromosikan CDMA 2000-1X. Jatuhnya pilihan kepada CDMA 2000-1X didasari oleh alasan akan kebutuhan percepatan pembangunan. Karena faktor geografis Indonesia yang berpulau-pulau dan bergunung-gunung, membangun fasilitas telekomunikasi selain tidak mudah juga tidak murah. Bercermin dari pengalaman PT Telkom, biaya pembangunan tiap SST (satuan sambungan telepon) konvensional, yaitu menggelar kabel tembaga, memerlukan sekitar 800 hingga 1.000 dollar AS.

Dengan ARPU (average revenue per user - rata-rata pendapatan dari tiap pelanggan) yang rendah, modal baru kembali dalam 15 tahun. Padahal, usia teknis peralatan, walau usia ekonomisnya sebetulnya masih panjang, cuma sekitar empat tahun. Ini karena meski peralatan masih bagus, pabriknya tidak lagi membuat suku cadang model itu, karena teknologi telekomunikasi berkembang sangat cepat dan pabrik harus mengikutinya. Itulah sebabnya, kepadatan telepon per seratus penduduk (teledensity) Indonesia masih rendah, cuma 3,7 telepon (3,7 persen). Padahal, peran telekomunikasi dalam pertumbuhan ekonomi dan kelancaran perdagangan cukup besar, jauh lebih besar dari transportasi.

Kedua operator telekomunikasi BUMN ini menggunakan CDMA 2000-1X, antara lain karena biayanya jauh lebih murah, hanya sekitar 200-250 dollar AS per SST. Selain itu, pembangunannya cepat. Jika penggelaran kabel, diperlukan waktu dua tahunan, untuk fixed wireless waktunya hanya dalam hitungan jam. Kalau perangkat sentral, switching dan BTS (base transceiver station) sudah siap, begitu pelanggan menyelesaikan persyaratan administrasi pasang baru dan membeli handset yang kemudian diprogram nomornya, saat itu pula telepon berfungsi.

Seperti diketahui, Telkom menargetkan pembangunan 40 ribu SST fixed phone wireless CDMA 2000-1X sampai akhir tahun 2002. Pembangunan itu akan dilakukan di tiga kota, yakni Surabaya, Denpasar, dan Balikpapan. Tahun 2003 ini, Telkom meningkatkan target pembangunan menjadi 770 ribu SST, sehingga sampai 2004 akan tercapai pembangunan 1,5 juta SST. Sementara PT Indosat, dengan basis teknologi yang sama, menyanggupi akan membangun 759 ribu SST sampai 2010, sebagai konsekuensi berlakunya duopoli.

Bagi PT Telkom, hal ini sangat menguntungkan karena akan menghemat waktu yang berarti biaya uang (cost of money) menjadi rendah. PT Telkom menggandeng Samsung dari Korea yang sudah berpengalaman dalam implementasi CDMA di negaranya. Asal tahu saja, populasi pengguna teknologi ini di Negeri Ginseng itu mencapai 20 jutaan. Secara resmi, untuk pertama kalinya CDMA 2000-1X PT Telkom ini diluncurkan di Surabaya, akhir Nopember 2002 lalu. Namanya TelkomFlexi, bekerja pada frekuensi 800 MHz. Telkom tidak bisa menggunakan frekuensi ini di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, karena Ratelindo dan Komselindo sudah memiliki dan mengoperasikannya.

Komselindo menggunakan frekuensi 800 MHz sebanyak 10 MHz di side B frekuensi 835-845 MHz dan 880-890 MHz untuk AMPS dan CDMAOne, sementara Ratelindo 10 MHz di band A frekuensi 825-835 MHz dan 870-880MHz. Untuk CDMA 2000-1X-nya pada frekuensi 800 MHz, PT Telkom cuma mendapat alokasi 5 MHz, antara 825-830 MHz. Yang menarik, karena sifatnya wireless, meskipun CDMA 2000-1X digunakan untuk fixed wireless seperti halnya telepon tetap kabel di rumah kita, TelkomFlexi tetap lebih lentur dan fleksibel. Selain untuk telepon meja, handset-nya bisa ditenteng-tenteng dan dipakai sepanjang masih dalam lingkup areanya atau lingkup BTS-nya. Contohnya adalah C-Phone yang sudah lebih dulu beroperasi di Surabaya.

Pihak Telkom menyebut area ini dengan nama Area Flexi, area di mana terminal pelanggan itu terdaftar. Kalau di area BTS, maka pelanggan bisa membawa terminalnya pada jangkauan sekitar dua kilometer, sesuai area liputan BTS, tetapi sangat tergantung pada kontur bumi atau kepadatan gedung. Pada praktiknya, kalau terminal dibawa keluar area BTS, pelanggan TelkomFlexi cuma dikenai charge sebesar Rp 50 per menit, dengan menggunakan fitur automutasi. Sementara tarifnya, ditetapkan sama dengan tarif telepon tetap PT Telkom, bukan tarif airtime seluler. Jadi, tarifnya relatif murah.

Secara teknologi, TelkomFlexi bisa dibawa ke mana saja sepanjang ada jaringan CDMA 2000-1X. Misalnya dari Surabaya ke Malang, namun itu akan menimbulkan persaingan tidak sehat dengan operator seluler, sehingga antarkode area, CDMA 2000-1X dibuat tidak bisa roaming. Ini berbeda dengan telepon tetap (PSTN-public switched telephone network) walau tarifnya - termasuk panggilan jarak jauh (SLJJ) - sama, TelkomFlexi tetap jauh lebih murah. Apalagi, TelkomFlexi juga menyediakan layanan prabayar, yang selain tarif standar juga masih akan dikenai lagi pungutan tambahan (surcharge).

Menariknya lagi, TelkomFlexi ini menyediakan berbagai layanan, yaitu layanan teleponi (suara dan faksimile) termasuk berbagai fiturnya. Misalnya, call forwarding, barring, hold, waiting, KLIP (kenali langsung identitas pelanggan), CLIR (calling line identification restriction), trimitra, pesan suara, indikator pesan masuk, pesan jangan diganggu, dan bermacam fitur lagi sepanjang dimungkinkan oleh CDMA. Selain itu, bisa untuk menerima SMS (short message service), web service dan pesan bergambar multimedia (MMS-multimedia messaging service), juga layanan pascabayar dan prabayar, kemungkinan pindah area BTS tanpa keluar dari kode area.

Setelah diluncurkan di Surabaya (kode area 031), TelkomFlexi secara resmi dikomersialkan mulai bulan Desember 2002 lalu sebanyak 25.000 SST. Dalam waktu dekat, dengan dukungan Samsung, TelkomFlexi akan melebarkan sayapnya ke Denpasar, Balikpapan dan kota-kota lain di Indonesia yang masih kesulitan dalam menambah nomor baru. Pihak Samsung mendapat kontrak senilai 14,7 juta dollar AS untuk membangun 40.000 SST, termasuk 16 BTS CDMA 2000-1X untuk TelkomFlexi, 10 BTS di antaranya, untuk Surabaya. Dari jumlah itu, termasuk 10.000 untuk Denpasar dan 5.000 untuk Balikpapan. Proyek T-21 paket kedua, PT Telkom sendiri akan membangun 802.000 SST fixed wireless dengan teknologi berbasis CDMA 2000-1X.

Pelanggan TelkomFlexi harus menyediakan sendiri terminal handset-nya, yang kini diperkirakan harganya sekitar Rp 1,3 juta sampai Rp 3 juta per buah. Selain terminal, pelanggan di Surabaya juga harus membayar biaya pasang baru yang ditetapkan sebesar Rp 150.000 per SST, sama dengan tarif pasang baru dan biaya bulanan (abonemen) segmen bisnis. PT Telkom menyarankan calon pelanggan agar membeli handset yang khusus triband yang bisa bekerja pada frekuensi 800 MHz, 1.800 MHz, dan 1.900 MHz. Terminal lama milik pelanggan C-Phone di Surabaya masih bisa digunakan meskipun beberapa layanan yang diberikan oleh TelkomFlexi tidak bisa difungsikan di terminal ini.

Menurut Kepala Fixed Wireless PT Telkom Alex Sinaga, himbauan tadi perlu disampaikan karena ternyata PT Telkom terpaksa menggunakan dua frekuensi untuk operasional CDMA-nya, yaitu di 800 MHz dan 1.900 MHz. Frekuensi 800 digunakan untuk daerah luar Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, karena di tiga daerah itu PT Telkom mendapat frekuensi 1900 MHz, akibat pemilik frekuensi 800 enggan berbagi dengan PT Telkom. Untuk Divisi Regional II Jakarta, CDMA-1X akan mulai dioperasikan pada triwulan pertama tahun 2003, dengan jumlah awal sebanyak 90.000 SST. Terminal CDMA 2000-1X itu akan bisa digunakan untuk bergerak di wilayah kode areanya.

Meski wilayah Divre II Jakarta meliputi juga Bogor, Purwakarta, Karawang, dan Serang, terminal berkode area nomor 021 tidak bisa digunakan di area lain, misalnya Bogor (0251). Wilayah cakupan 021 pun, dibagi lima sesuai wilayah kantor daerah telekomunikasi (kandatel) plus sebagian Datel Bekasi dan Tangerang, sepanjang masih menggunakan kode area 021. Penggunaan di luar wilayah tadi dikenai biaya mutasi sebesar Rp 50 per menit. Tapi biaya ini, lagi-lagi, masih murah dibanding telepon tetap.

Perluasan operasional CDMA 2000-1X sebagai fixed cellular yang bisa digunakan untuk bergerak itu meresahkan operator seluler, sebab akan terjadi persaingan tajam antarkeduanya. CDMA yang dioperasikan PT Telkom diramalkan akan bisa merebut hati masyakarat, antara lain karena pulsanya lokal, sekitar separuh tarif airtime seluler. Apalagi, data dari operator seluler menyebutkan, sekitar 90 persen pengguna seluler tidak pernah keluar dari areanya dan lebih banyak menggunakan ponselnya untuk panggilan lokal. Persaingan akan makin tajam dan pasti akan mendapat protes keras dari Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI), apalagi kalau CDMA bisa digunakan antarkode area.

Konon, di frekuensi 1900 MHz masih tersedia pita 20 MHz. Pihak PT Telkom akan mendapatkan 10 MHz, sisanya digunakan PT Indosat yang juga mengoperasikan CDMA 2000-1X, dan satu operator baru. Sebelumnya, di frekuensi 1900 ini sudah beroperasi C-phone di Surabaya yang menggunakan teknologi CDMA dan PHS (personal handyphone system) di Jakarta. PHS ini dioperasikan secara terbatas dengan jumlah sementara 1.000 SST di sekitar Bintaro, Blok M, dan Istana Presiden. Sama dengan sifat CDMA 2000-1X, PHS ini juga berupa fixed cellular dengan mobilitas di jangkauan BTS-nya.

Bagi konsumen, perkembangan demikian jelas akan menguntungkan karena tersedia sejumlah alternatif pilihan. Bagi para vendor, mulai beroperasinya teknologi CDMA fixed cellular juga membuka peluang bisnis baru: menyediakan terminal. Bahkan, disebut-sebut sejumlah pemain baru pun ikut nimbrung dengan memunculkan produk-produk terbarunya.

CDMA Development Group (CDG) mengumumkan bahwa total jumlah pelanggan CDMA2000 di Indonesia telah melampaui angka 10 juta.

CDG menyatakan hanya dengan 36 persen dari 66.778 desa di Indonesia yang menggunakan beberapa jenis layanan telekomunikasi, potensi pertumbuhan pelanggan CDMA2000 secara menakjubkan diharapkan mencapai 64 persen CAGR.

"CDG sangat antusias melihat perkembangan CDMA2000 yang pesat di Indonesia. Di pasar dimana hanya satu dari empat orang yang memiliki akses telepon, CDM2000 telah terbukti sebagai teknologi pilihan untuk menghadirkan layanan telepon, akses Internet, televisi dan broadband data," kata James Person, Chief Operating Officer CDG pada acara CEO Roundtable dan Executive Briefing yang dihadiri enam operator CDMA2000 di Jakarta, Senin.

James mengatakan jaringan ekonomi yang kondusif, ketersediaan perangkat entry-level dan kematangan 3G CDMA2000 menghadirkan kemudahan bagi para operator di seluruh dunia untuk meraih keuntungan sekaligus menawarkan tarif yang sangat kompetitif.

Dia melanjutkan pertumbuhan ini didorong oleh kualitas suara yang lebih baik, akses broadband yang lebih cepat, biaya total kepemilikan yang lebih rendah serta ketersediaan perangkat dan layanan dengan harga terjangkau yang menjadikan CDMA2000 teknologi pilihan bagi emerging market.

Melalui inisiatif cost reduction seperti Global Handset Requirements for CDMA (GHRC), CDMA Certification Forum (CCF) dan usaha carrier-led device dari CDG, industri CDMA telah mempertahankan dan mempercepat kepimpinannya dalam menghadirkan perangkat 3G dengan akses terjangkau untuk telephony, Internet serta layanan dan aplikasi yang bernilai tambah.

James mengatakan ketersediaan perangkat dan tarif akses Internet dengan harga yang terjangkau telah membantu meningkatkan penetrasi telepon dan layanan Internet di kawasan ini.

CDG melihat para operator CDMA2000 di wilayah ini menghadirkan layanan seperti televisi, musik, pembelajaran jarak jauh, remote medicine dan e-government melalui perangkat CDMA kepada para pelanggan.

Sejak menggunakan layanan CDMA2000 1xEV-DO tahun lalu, Bakrie Telecom, Mobile-8 dan INDOSAT saat ini memimpin dalam upaya sosialisasi layanan broadband data berkecepatan tinggi di Indonesia.

Sebagai contoh, pada bulan Oktober 2006, dengan menggunakan teknologi CDMA2000 1xEV-DO, Mobile-8 meluncurkan layanan mobile television pertama di Indonesia yang dinamakan TV Mobi dimana pelanggan dapat menonton acara-acara televisi dari telepon selular mereka.

Layanan 3G seperti ini akan terus dikembangkan melalui penggunaan CDMA2000 1xEV-DO Rev. A, sebuah teknologi yang membutuhkan piranti lunak yang sederhana untuk menghadirkan carrier-grade VoIP, push-to-talk, mengirimkan atau menerima email dengan file attachement yang besar, webcam monitoring, siaran televisi serta masih banyak layanan broadband generasi mendatang lainnya.

CDMA2000 telah terbukti sebagai solusi yang terbaik untuk melayani berbagai kebutuhan pelanggan dalam wilayah yang padat penduduknya di Indonesia serta kebutuhan dasar para pengguna ini yang memiliki daya beli yang terbatas di wilayah yang tingkat populasinya rendah di Indonesia.

Pada CEO Roundtable dan Executive Briefing yang diselenggarakan hari ini yang dihadiri enam operator CDMA2000®, CDMA Development Group (CDG) mengumumkan bahwa total jumlah pelanggan CDMA2000 di Indonesia telah melampaui angka 10 juta.

Hanya dengan 36% dari 66.778 desa di Indonesia yang menggunakan beberapa jenis layanan telekomunikasi, potensi pertumbuhan pelanggan CDMA2000 diharapkan mencapai 64% CAGR secara menakjubkan.

Pertumbuhan ini didorong oleh kualitas suara yang lebih baik, akses broadband yang lebih cepat, biaya total kepemilikan yang lebih rendah serta ketersediaan perangkat dan layanan dengan harga terjangkau – yang menjadikan CDMA2000 teknologi pilihan bagi emerging market.

Negara

Operator

Jaringan

Indonesia

Bakrie Teleco

1X (telah diluncurkan)
EV-DO (telah diluncurkan)

Indonesia

INDOSAT

1X (telah diluncurkan)
EV-DO Rel 0 (telah diluncurkan)

Indonesia

Mobile-8 Teleco

1X (telah diluncurkan)
EV-DO Rel 0 (telah diluncurkan)

Indonesia

Sampoerna Telekomunikasi

1X (telah diluncurkan)

Indonesia

Smart Telecom (sebelumnya Sinar Mas Group, Indoprima Mikroselindo)

1X (akan diluncurkan)

Indonesia

TELKOM

1X (telah diluncurkan)

CDG sangat antusias melihat perkembangan CDMA2000 yang pesat di Indonesia, kata James Person, chief operating officer CDG. Di pasar dimana hanya satu dari empat orang yang memiliki akses telepon, CDM2000 telah terbukti sebagai teknologi pilihan untuk menghadirkan layanan telepon, akses Internet, televisi dan broadband data.

Tidak seperti teknologi 2G, jaringan ekonomi yang kondusif, ketersediaan perangkat entry-level dan kematangan 3G CDMA2000 menghadirkan kemudahan bagi para operator di seluruh dunia untuk meraih keuntungan sekaligus menawarkan tarif yang sangat kompetitif.

Melalui inisiatif cost reduction seperti Global Handset Requirements for CDMA (GHRC), CDMA Certification Forum (CCF) dan usaha carrier-led device dari CDG, industri CDMA telah mempertahankan dan mempercepat kepimpinannya dalam menghadirkan perangkat 3G dengan akses terjangkau untuk telephony, Internet serta layanan dan aplikasi yang bernilai tambah. Ketersediaan perangkat dan tarif akses Internet dengan harga yang terjangkau telah membantu meningkatkan penetrasi telepon dan layanan Internet di kawasan ini.

Para operator CDMA2000 di wilayah ini menghadirkan layanan seperti televisi, musik, pembelajaran jarak jauh, remote medicine dan e-government melalui perangkat CDMA kepada para pelanggan. Sejak menggunakan layanan CDMA2000 1xEV-DO tahun lalu,
Bakrie Telecom, Mobile-8 dan INDOSAT saat ini memimpin dalam upaya sosialisasi layanan broadband data berkecepatan tinggi di Indonesia.

Sebagai contoh, pada bulan Oktober 2006, dengan menggunakan teknologi CDMA2000 1xEV-DO, Mobile-8 meluncurkan layanan mobile television pertama di Indonesia yang dinamakan TV Mobi dimana pelanggan dapat menonton acara-acara televisi dari telepon selular mereka. Layanan 3G seperti ini akan terus dikembangkan melalui penggunaan CDMA2000 1xEV-DO Rev. A, sebuah teknologi yang membutuhkan piranti lunak yang sederhana untuk menghadirkan carrier-grade VoIP, push-to-talk, mengirimkan atau menerima email dengan file attachement yang besar, webcam monitoring, siaran televisi serta masih banyak layanan broadband generasi mendatang lainnya.

INDUSTRI telepon seluler di India sedang gonjang- ganjing. Reliance--suatu raksasa industri yang sejatinya bergerak di bidang petrokimia dan penyulingan minyak--mulai memasuki pasar telekomunikasi ritel melalui perusahaan Reliance Infocomm.

O>small 2small 0<-operator seluler resah karena produk yang ditawarkan oleh Reliance Infocomm berupa layanan telepon tetap nirkabel atau disebut dengan WLL (wireless local loop) dengan tambahan fitur limited mobility (bergerak secara terbatas). Dengan teknologi CDMA 2000-1X yang dikembangkan oleh perusahaan Qualcomm yang berkedudukan di AS, fitur limited mobility ini bisa direalisasikan.

Dalam terminologi teknologi, layanan limited mobility dan layanan seluler adalah hampir identik dan merupakan layanan antara layanan telepon bergerak dan layanan telepon tetap. Masalahnya, tarif yang ditawarkan mengacu kepada tarif telepon tetap yang memang jauh lebih murah. Ini yang mengkhawatirkan para operator seluler karena diperkirakan akan banyak pelanggan mereka yang beralih ke produk telepon tetap berfitur limited mobility ini.

Tarif limited mobility-yang dapat disetarakan dengan biaya airtime-yang dikenakan kepada pelanggan adalah hanya sekitar 1 sen dollar AS (di bawah Rp 100). Tarif ini sepertiga biaya airtime yang ditawarkan semua operator seluler di India.

Layanan dan fitur-fitur yang bisa dinikmati oleh pelanggan juga lebih luas dari layanan seluler eksisting yang berbasis teknologi GSM, seperti akses Internet, berita, permainan dan ke depan layanan-layanan interaktif. Tentu saja layanan-layanan standar seluler seperti SMS dan caller line identification presentation (CLIP) bisa dipenuhi.

Layanan yang diluncurkan Desember 2002 ini memicu perang tarif dan sasaran pasarnya adalah mereka yang memiliki pesawat televisi yang saat ini jumlahnya sekitar 90 juta. Keagresifan Reliance, menurut majalah Far Eastern Economic Review, memicu pula pengaduan dari operator-operator seluler eksisting ke Mahkamah Agung (MA) India. Hakim MA menyarankan pentingnya menetapkan "area bermain" dari kedua pihak yang bersengketa tersebut.

Pada saat produk WLL-CDMA Reliance diluncurkan, menurut analis Credit Suisse First Boston, harga saham Bharti Tele Venture (BTVL)-operator seluler GSM yang juga dimiliki sebagian oleh SingTel-menukik tajam dari 26 rupee menjadi 22 rupee.

Di Indonesia

Pada masa yang hampir sama, PT Telkom di Indonesia juga meluncurkan produk yang dinamai TelkomFlexi pada 23 Desember 2002. Produk ini sejenis dengan produk Reliance Infocomm dan juga berbasis teknologi CDMA 2000-1X.

TelkomFlexi adalah produk telepon tetap nirkabel (fixed wireless) baik untuk suara maupun data, di mana pelanggan bisa melakukan panggilan dan dipanggil pada posisi di mana pun selama berada di area flexi. Pemakainya dikenai tarif sama dengan tarif telepon, tetap tanpa biaya airtime dan pelanggan bisa bergerak sepanjang berada di area flexi.

Yang menjadikan produk ini sama dengan produk WLL Reliance adalah kemampuan untuk bergerak secara terbatas selain menawarkan pula fitur automutasi. Dengan fitur ini, pelanggan dimungkinkan berkomunikasi di luar area flexi di mana terminal pelanggan terdaftar, selama masih dalam satu cakupan kode area (021 misalnya untuk Jakarta).

Dikabarkan bahwa untuk fitur automutasi ini, pelanggan akan dikenai biaya sekitar Rp 100 per menit. Tarif ini, apabila benar, akan jauh lebih murah daripada tarif airtime seluler yaitu sebesar Rp 325 per menit. Akankah TelkomFlexi menghantam industri seluler berbasis GSM yang saat ini menjadi primadona industri telekomunikasi di Indonesia?

Ada beberapa indikasi yang perlu kita cermati di samping faktor tarif, yaitu

1. Diperkirakan jumlah pelanggan seluler yang melakukan perjalanan ke kota lain (atau berpindah kode area) hanyalah sekitar 20 persen. Kemudahan untuk roaming ini menjadi keunggulan produk seluler dibandingkan TelkomFlexi. Berarti, operator seluler harus mewaspadai kemungkinan migrasi sebagian dari sekitar 80 persen pelanggan yang hanya bergerak hanya dalam satu kode area karena faktor murahnya tarif tadi.

2. Kapasitas TelkomFlexi yang akan dibangun, menurut manajemen PT Telkom yang dilansir beberapa media massa, hanya sebesar 1,6 juta SST (satuan sambungan telepon) selama tiga tahun. Sedangkan addressable market (pasar yang masih bisa disasar) adalah sebesar 20 juta-30 juta pelanggan untuk saat ini. Peluang masih cukup terbuka, tetapi diperlukan suatu efisiensi bagi para operator seluler berbasis GSM atas pemanfaatan pita frekuensi yang dialokasikan, yang menjadi salah satu faktor untuk menekan tarif airtime untuk bisa bersaing.

3. Sebagai operator incumbent, PT Telkom memiliki baik prasarana yang luas (ubiquitous) maupun pelanggan yang cukup besar dan riel. Kondisi agak berbeda dengan Reliance Infocomm yang merupakan pendatang baru, walaupun juga mulai membangun jaringan utama yang luas di India.

Artinya, posisi PT Telkom cukup kuat dalam memasuki bisnis WLL ini jika dibandingkan dengan Reliance walau Reliance didukung oleh finansial yang kuat. Reliance saat ini masih menghadapi masalah dalam melakukan interkoneksi, hubungan di mana pelanggan Reliance dapat berhubungan dengan pelanggan operator seluler lainnya. Posisi PT Telkom agak berbeda karena semua operator telekomunikasi lainnya di Indonesia justru membutuhkan hubungan interkoneksi dengannya.

4. Pemosisian terminal telepon untuk TelkomFlexi yang mengarah kepada gaya hidup. Secara sederhana ada dua macam terminal telepon, yaitu berbentuk desktop (semacam pesawat telepon rumah yang ada sekarang) dan berbentuk handheld, semacam telepon seluler (ponsel) yang sangat populer.

Terminal yang berbentuk ponsel juga akan dilengkapi kartu identitas pemakai semacam kartu SIM pada produk seluler berbasis GSM. Ini yang justru akan memungkinkan pelanggan yang mengutamakan gaya hidup beralih. Dengan fasilitas semacam kartu SIM ini pula, TelkomFlexi dapat ditawarkan baik dalam bentuk prabayar maupun pascabayar.

5. Kemampuan teknologi CDMA 2000-1X mengirim data dengan kecepatan sampai 144 Kbps (kilobit per detik) akan memberikan keleluasaan bagi Telkom untuk mengembangkan value creation untuk ditawarkan kepada pelanggannya seperti halnya Reliance Infocomm. Hal ini membuat teknologi CDMA 2000-1X sudah disebut dengan teknologi 3G. Walaupun diposisikan sebagai layanan telepon tetap (pontap) nirkabel, kemampuan ini diyakini akan memunculkan pelanggan-pelanggan baru dan juga operator-operator content interactive (misalnya game, info, chat, dan sebagainya) yang baru di Indonesia.

Selama ini pula terbukti bahwa budaya masyarakat Asia Timur dan Tenggara mendukung tumbuhnya layanan content interactive. Seperti SMS (yang paling sederhana) dan suksesnya produk i-Mode dari NTT DoCoMo serta suksesnya operator-operator seluler di Korea Selatan (SK Telecom, KT Freetel) dalam menggelar layanan ini.

Apalagi teknologi CDMA 2000-1X ini bisa dengan mudah ditingkatkan ke CDMA 2000- 1X EV-DO (evolution data only/optimized) yang mampu memberikan layanan komunikasi data dengan maksimum kecepatan 2,4 Mbps (megabit per detik). Sebagai perbandingan, operator seluler utama di Indonesia berbasis GSM dan saat ini mulai menerapkan DCS 1800 menuju kepada teknologi GPRS (general packet radio service) yaitu teknologi 2,5G/generasi ke 2,5 dengan kecepatan data maksimum 114 Kbps.

Memang menarik apakah fenomena WLL-CDMA ini akan mengancam industri telepon seluler berbasis GSM yang selama ini menjadi bagian terbesar pangsa pasar dunia dengan menguasai hampir 70 persen jumlah pemakai di seluruh dunia. Kekuatan inilah yang menjadikan mereka mampu roaming di hampir seluruh belahan bumi.

Tampaknya saat ini tengah terjadi persaingan yang ketat dalam teknologi nirkabel antara teknologi berbasis GSM dan teknologi berbasis CDMA yang notabene sering disebut lanjutan versi digital dari AMPS. Bagaimana kubu CDMA yang dimotori oleh Qualcomm menyerang kubu GSM adalah melalui dua cara utama yang sistematis.

1. Mereka memulai dari Asia yang memang menjadi pasar terbesar layanan nirkabel masa depan. Sukses diraih dengan men-CDMA-kan Korea Selatan sehingga Korea Selatan adalah negara pertama yang mampu menyebarkan apa yang mereka klaim sebagai layanan 3G pertama di dunia secara luas dengan pelanggan lebih dari 30 juta.

Sasaran berikutnya adalah Cina, di mana saat ini China Unicom telah memulai memanfaatkan teknologi CDMA 2000-1X. Cina adalah negara dengan pasar telepon bergerak terbesar di dunia dan operator China Unicom telah mulai menggelar telepon seluler berbasis teknologi CDMA 2000-1X awal tahun ini dengan proyeksi 30 juta sampai dengan tahun 2004 di 300 kotanya. Berikutnya pijakan dilakukan di India dan Indonesia melalui layanan WLL.

2. Mereka juga memulai tidak murni dari layanan telepon seluler, tetapi juga dari layanan telepon tetap nirkabel seperti halnya WLL-CDMA-nya Reliance atau TelkomFlexi-nya Telkom. Di Brasil, operator Vesper juga telah mengoperasikan WLL-CDMA, tetapi berbasis teknologi yang lebih kuno, yaitu CDMAOne IS-95B dan akan masuk pula ke teknologi CDMA 2000-1x. Hal yang sama juga dilakukan oleh operator di Mauritius dan tampaknya cara ini yang mengkhawatirkan para operator seluler yang berbasis GSM.

Bagi pelanggan (khususnya di Indonesia) diluncurkannya produk TelkomFlexi mestinya membawa berkah karena akan memaksa operator-operator seluler untuk meninjau kembali sistem penarifannya. Kita tahu bahwa selama ini yang terus diawasi oleh masyarakat pengguna adalah tarif telepon tetap seperti kejadian beberapa waktu yang lalu di mana pemerintah menunda kenaikan tarif telepon.

Untuk seluler, kontrol tarif ini tampaknya tidak seperti yang terjadi pada tarif telepon tetap. Dan tampaknya hal inilah yang mencerminkan hakikat sebenarnya dari suatu kompetisi pada industri telekomunikasi di Indonesia.

Pergeseran frekuensi

Pergeseran frekuensi CDMA 2000 1X memiliki konsekuensi ekonomis sangat tinggi. Menurut Suryatin Setiawan, Direktur Jasa Bisnis PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), pergeseran frekuensi diperkirakna bakal menimbulkan ongkos tinggi bagi pihak yang telah beroperasi di frekuensi tersebut.

“Sehingga, hal itu, perlu ada pengkajian lebih dalam. Karena, pergeseran frekuensi bukan hal yang mudah dilakukan, dan konsekuensi ekonomis sangat besar,” kata Suryatin, akhir pekan lalu.

Seperti diketahui, pemerintah telah melontarkan kemungkinan penataan ulang frekuensi CDMA2000 1X yang berada di frekuensi 1900MHz. Langkah tersebut akan ditempuh, guna mengoptimalkan penyelenggaraan layanan telekomunikasi generasi ketiga (3G) sesuai standar IMT-2000.

Lebih jauh, Suryatin mengatakan, pergeseran frekuensi merupakan peristiwa yang besar. Sehingga harus ada diskusi yang ketat mengenai rencana tersebut. Apalagi, hal itu menyangkut biaya yang besar. Telkom, sebagai badan usaha, lanjut dia, harus memikirkan siapa yang akan bertanggung jawab atas dana yang harus dikeluarkan untuk rencana tersebut.

Namun demikian, diakui Suryatin, pihaknya belum secara detik mengetahui rencana ini. Suryatin juga mengaku belum mendapatkan pemberitahuan resmi dari pemerintah. Bahkan, pihaknya baru mendengar masalah tersebut dari pers.

Senada dengan Suryatin, Heru Sutadi, pengamat telekomunikasi mengatakan, konsekuensi biaya untuk pergeseran frekuensi sangat besar. Dan, dipastikan hal itu akan mempengaruhi operasional produk CDMA 2000 IX yang sudah beroperasi seperti produk milik PT Indosat maupun PT Telkom. “Sehingga saya kira pemerintah harus melihat kembali urgensi pergeseran frekuensi ini,” katanya.

Heru mengungkapkan, pembagian frekuensi yang sudah ada, secara teoritis sebetulnya masih tersisa frekuensi sebanyak 30 MHz untuk dua penyelenggara layanan 3G. Hal itu dikarenakan total alokasi frekuensi yang disediakan untuk penyelenggaraan 3G adalah 60 Mhz.

Lebih jauh, karena alokasi frekuensi antara CDMA2000 1X dan IMT-2000 berhimpitan, dikhawatirkan akan terjadi gangguan (interferen) jika tidak disediakan guard band (frekuensi penjaga). Untuk itu, dapat dimengerti, bila untuk menghindari hal tersebut, pemerintah mengkaji berbagai kemungkinan, yang salah satunya adalah dengan menggeser frekuensi CDMA 2000 1X .

Referensi :

www.rileks.com

1 komentar:

evdo 16 Desember 2010 19.35  

wah... nice.
thanks udah share
bermanfaat bgt

Poskan Komentar

TENTANG BLOG INI

Blogs ini dibuat untuk memenuhi tugas Jaringan Telekomunikasi (JarTel ) yang di bimbing oleh Dosen kami yaitu Bapak Hadiy.Semoga Blogs ini dapat di manfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh temen-temen pembaca , dan dapat menambah pengetahuan temen-temen. Saya selaku penulis dan pengedit Blogs ini mengucapkan -TERIMA KASIH - BY IB

Pengikut

TENTANG KAMI

Foto saya
Kami adalah kelompok Jaringan Telekomuniksi kelas TT-31-06 yang membuat Tugas CDMA2000 yang diberikan oleh Pak Hadiy yang merupakan Dosen IT Telkom JARTEL, Kelompok CDMA2000 terdiri dari: 1.Ida Bagus P.Mahayana (111071045) 2.Nusriyati Mahmudah Nashuha (111070056) 3.Angga Sanianto (111060009)

Bagaimana menurut anda blogs kami( dari segi tampilan dan isi ) ????